Teknik Pembuatan
Kompos Dan Standart Kompos Yang Baik
Kompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari
bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Kompos
yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organik karena penyusunnya terdiri
dari bahan-bahan organik. Membuat kompos adalah salah satu cara mengolah sampah
yang semula dianggap tak berguna menjadi benda yang memberi manfaat ekonomi dan
lingkungan bagi kita. Secara sederhana, kompos adalah hasil pengolahan sampah
organik atau yang mudah membusuk secara alami. Pengolahan tersebut dilakukan
dalam kondisi suhu yang hangat dan lembab.
Pengomposan adalah
proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya
oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Kompos dikatakan baik apabila tingkat kematangannya
sempurna. kompos yang matang dapat dikenali dari keadaan dan bentuk fisiknya.
kompos yang sudah matang biasanya memiliki ciri-ciri:
1.
Jika diraba, suhu
tumpukan bahan yang dikomposisikan sudah dingin atau mendekati suhu ruang.
2.
tidak mengeluarkan
bau busuk lagi.
3.
Berwarna coklat tua
hingga hitam mirip dengan warna tanah.
4.
Tidak larut dalam
air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi.
5.
Strukturnya remah
dan tidak menggumpal.
6.
Nisbah C/N sebesar
10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat kelembapan.
7.
Berefek baik jika
diaplikasikan pada tanah.
Cara membuat
kompos:
1.
Sediakan drum atau
sejenisnya.
2.
Lubangi kecil-kecil
bagian dasar drum untuk rembesan air dari sampah.
3.
Untuk menjaga
kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Bak
pengomposan tidak boleh kena air hujan sehingga sebaiknya harus dibawah atap.
Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air
dapat merembes ke bawah jangan ditempatkan di tempat yang kedap air.
4.
Masukkan sampah
organik ke dalam wadah (drum) setiap hari. Campur 1 bagian sampah hijau dan 1
bagian sampah coklat.
5.
Tambahkan 1 bagian
kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos
ini diharapkan mengandung banyak mikroba aktif yang bekerja mengolah sampah
menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak dari ayam atau sapi dapat pula
dicampurkan.
6.
Pembuatan bisa
dikukan secara sekaligus atau selapis demi selapis misalnya setiap dua hari
ditambah sampah baru. Untuk menghindari terlalu panas maka setiap 7 hari perlu
diaduk.
7.
Pengomposan
dinyatakan sudah selesai jika campuran menjadi kehitaman dan tidak berbau
sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat
kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu
kembali normal dan kompos sudah jadi.
Faktor keberhasilan dari pengomposan terletak pada bagaimana
cara mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh
lingkungan yang optimal untuk berkembang biak. Kondisi yang optimal adalah
ketika makanan cukup (cukup tersedia bahan organik), kelembaban (30-50%) dan
udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas. Untuk mempercepat pengomposan,
dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM)
yang dapat dibeli di toko pertanian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar