Kamis, 27 Desember 2012

kompos


Teknik Pembuatan Kompos Dan Standart Kompos Yang Baik
Kompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organik karena penyusunnya terdiri dari bahan-bahan organik. Membuat kompos adalah salah satu cara mengolah sampah yang semula dianggap tak berguna menjadi benda yang memberi manfaat ekonomi dan lingkungan bagi kita. Secara sederhana, kompos adalah hasil pengolahan sampah organik atau yang mudah membusuk secara alami. Pengolahan tersebut dilakukan dalam kondisi suhu yang hangat dan lembab.
Pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Kompos dikatakan baik apabila tingkat kematangannya sempurna. kompos yang matang dapat dikenali dari keadaan dan bentuk fisiknya. kompos yang sudah matang biasanya memiliki ciri-ciri:
1.    Jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposisikan sudah dingin atau mendekati suhu ruang.
2.    tidak mengeluarkan bau busuk lagi.
3.    Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah.
4.    Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi.
5.    Strukturnya remah dan tidak menggumpal.
6.    Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat kelembapan.
7.    Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah.

Cara membuat kompos:
1.    Sediakan drum atau sejenisnya.
2.    Lubangi kecil-kecil bagian dasar drum untuk rembesan air dari sampah.
3.    Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan sehingga sebaiknya harus dibawah atap. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah jangan ditempatkan di tempat yang kedap air.
4.    Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari. Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.
5.    Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini diharapkan mengandung banyak mikroba aktif yang bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak dari ayam atau sapi dapat pula dicampurkan.
6.    Pembuatan bisa dikukan secara sekaligus atau selapis demi selapis misalnya setiap dua hari ditambah sampah baru. Untuk menghindari terlalu panas maka setiap 7 hari perlu diaduk.
7.    Pengomposan dinyatakan sudah selesai jika campuran menjadi kehitaman dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal dan kompos sudah jadi.
Faktor keberhasilan dari pengomposan terletak pada bagaimana cara mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak. Kondisi yang optimal adalah ketika makanan cukup (cukup tersedia bahan organik), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar