Senin, 29 Oktober 2012

JUDUL ACARA                              : ANALISIS pH DAN C-ORGANIK 




BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Tanah memiliiki pengertian yang banyak dan berbeda-beda, tergantung dari segi mana tanah dilihat. Joffe mengartiakan tanah sebagai suatu benda alam yang tersusun dari unsur-unsur hewani, mineral, dan bahan organik yang dibedakan ke dalam horizon-horizon dengan kedalaman yang dapat dibedakan dari bahan-bahan di bawahnya dalam hal morfologi, sifat-sifat fisik, kimia, dan biologinya.
            Beberapa sifat dari tanah yaitu :
1.    Sifat Fisika
Sifat fisika tanah adalah sifat yang data dilihat secara fisik antara lain stuktur tanah, konsistensi, warna, aerasi dan drainasi, permibilitas dan penetrometer.
2.    Sifat Kimia
Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn. pH tanah digunakan untuk mengetahui aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut. 
3.    Sifat Biologi
Tanah bertekstur halus ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. 
          
Dengan mengetahui profil tanah akan membantu kita dalam memperoleh gambaran sifat-sifat yangg dimiliki oleh tanah, terutama yang berhubungan dengan pertumbuhan tanaman, agar tanaman tersebut bisa tumbuh baik di tanah tersebut. Dengan mengetahui profil tanah di suatu tempat maka setidaknya akan mengerti bagaimana cara pengelolaannya untuk budidaya tanaman yang dikehendaki.    
 
1.2  Tujuan
            Untuk mengetahui analisis pH dan C-organik yang ada di dalam tanah dari sampel tanah yang diambil.

1.3  Manfaat
            Dapat menganalisis pH dan C-organik yang ada di dalam tanah dari sampel tanah yang diambil.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
            Dengan adanya perbedaan kandungan unsur hara antar lokasi maka terjadilah perbedaan tingkat kesuburan antara petak yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang ada ini dimungkinkan dapat berpengaruh terhadap kemampuan tumbuhan untuk dapat tumbuh di lokasi tersebut, sehingga kemungkinan kondisi tanah dan unsur hara yang ada dapat menjadi faktor pembatas dalam penyebaran suatu jenis tumbuhan di hutan Wanagama I. Biomassa seresah yang ada di hutan memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan suatu jenis tanaman. Akumulasi biomassa seresah di lantai hutan sangat dipengaruhi oleh kecepatan dekomposisi seresah tersebut, kecepatan dekomposisi ini salah satunya dipengaruhi oleh nisbah C-N yang ada pada seresah, semakin besar nisbah C-N seresah maka akan semakin sulit seresah tersebut untuk terdekomposisi. Selain kondisi tanah, faktor lain seperti iklim tentu juga berpengaruh terhadap keberhasilan hidup suatu jenis tanaman. Setiap jenis tumbuhan tentunya memiliki persyaratan untuk tumbuh pada iklim yang berbeda. Curah hujan, suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu jenis tanaman. Jika tanaman tidak mampu beradaptasi dengan kondisi iklim lingkungannya maka tanaman itu akan sulit untuk dapat hidup, sehingga secara bersamaan tanah dan iklim menjadi faktor yang membatasi perkembangan suatu jenis tanaman. Mengingat begitu pentingnya keberadaan biomassa seresah dan bahan organik tanah dalam perkembangan suatu jenis tanaman, maka perlu dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk: a). Mengetahui biomassa seresah, kandungan hara seresah dan nisbah C-N di setiap tipe fisiognomi. b). Mengetahui kandungan C-organik tanah di setiap tipe fisiognomi. dan c). Mengetahui kandungan N-total tanah di setiap tipe fisiognomi (Supriyo et al, 2009).
            Tana merupakan suatu sistem yang ada dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu :
a.    Partikel mineral, berupa fraksi anorganik, hasil perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang terdapat di permukaan bumi;
b.    Bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran binatang;
c.    Air;
d.   Udara tanah, dan
e.    Kehidupan jasad renik.
Perbedaan perbandingan komponen-komponen di atas akan menyebabkan adanya perbedaan antara tanah yang satu dengan tanah yang lainnya (Sutedjo dan Kartasapoetra,  1991).
            Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat, yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk dan ukuran agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering, dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri. De Boodt menyatakan bahwa struktur tanah berpengaruh terhadap gerakan air, gerakan udara, suhu tanah dan hambatan mekanik perkecambahan biji serta penetrasi akar tanaman. Karena kompleknya peran struktur, maka pengukuran struktur tanah didekati dengan sejumlah parameter antara lain bentuk dan ukuran agregat, agihan ukuran agregat, stabilitas agregat, persentase agregasi, porositas (BV, BJ), agihan ukuran pori, dan kemampuan menahan air. Kemper & Chepil dan Baver et al. menyatakan agihan ukuran agregat dan stabilitasnya berkaitan dengan kepekaan struktur tanah terhadap erosi baik erosi angin maupun erosi air. Kedua parameter ini juga dalam tanah yang merupakan faktor utama pertumbuhan tanaman (Handayani dan Bambang, 2002).
            Temperatur dan air sangat mempengaruhi proses pelapukan kimia, yaitu mekin lembab dan makin tinggi temperatur maka makin cepat reaksi-reaksi penguraian mineral. Berhubungan dengan itu maka di daerah-daerah yang panas dan kering, seperti daerah gurun, juga di daerah dingin seperti di puncak gunung dan kutub, pelapukan kimia berjalan lambat. Tapi di daerah tropis yang temperatur dan curah hujannya tinggi pelapukan kimia ini berjalan relatif cepat. Di celah-celah batuan yang pecah/retak karena pengaruh iklim sering tumbuh tumbuhan atau akar tumbuhan. Keadaan ini bisa membantu mempercepat pelapukan batuan. Jasad-jasad hidup yang yang terdapat dalam tanah seperti rayap, semut, serangga, dan lain-lain, dapat merombak bahan organik dan mencampurkannya dengan bahan-bahan mineral dari batuan, dengan demikian dapat mempercepat proses pelapukan. Pada proses penguraian sisa-sisa tumbuhan dan hewan oleh jasad hidup dalam tanah maka dihasilkan senyawa-senyawa asam organik, asam organik dan CO2 yang dapat membantu mempercepat proses pelapukan (Syarif, 1985).     


BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu tanggal 9 November 2011 pada pukul 08.30 WIB sampai selesai bertempat di Agroteknopark.
 
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Kresek
2. Cangkul
3. Ayakan
4. Alat penumbuk
5. Alas pengering-angin

3.2.2 Bahan
1. Tanah agroteknopark 2 kg
2. Tanah tegalan 2 kg
3. Tanah tererosi 2 kg

3.3 Cara Kerja
1. Mengambil sampel tanah masing-masing 2 kg.
2. Sampel tanah dikering-anginkan di atas tampah yang dialasi sak atau plastik.
3. Membuang akar, batuan dan kotoran lain.
4. Melatakkan sempel tanah ditempat  teduh, tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.
5. Setelah tnah mengering, menumbuk contoh tanah sebanyak 1 kg dan di ayak 1 kg ( untuk dianalisis ph, C-organik).
6. Merngering-anginkan contoh tanah yang sudah diayak.
7. Menyimpan contoh tanah yang sudah dikering-angin.


4.2  Pembahasan
Karakteristik tanah
1.    Sifat Fisika
Sifat fisika tanah adalah sifat yang data dilihat secara fisik antara lain stuktur tanah, konsistensi, warna, aerasi dan drainasi, permibilitas dan penetrometer.
Tektur tanah merupakan perbandingan relatif tiga fraksi – fraksi tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara farksi liat, debu dan pasir. Tekstur pasir kasar dan massanya berat disbanding yang lain. Tekstur debu licin dan massanya paling ringan. Tekstur liat lebih lengket dan massanya sedang.
2.    Sifat Kimia
Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn. pH tanah digunakan untuk mengetahui aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut.
3.    Sifat Biologi
Tanah bertekstur halus ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsur hara dan bahan organic yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.
Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat.
            Tekstur tanah adalah perbandingan kandungan partikel-partikel tanah primer berupa fraksi liat, debu, dan pasir dalam suatu masa tanah. Pertikel-partikel tanah primer itu memiliki benyuk dan ukuran yang berbeda-beda dan dapat digolongkan ke dalam 3 golongan fraksi, ada yang berdiameter besar sehingga dengan mudah dan dapat dilihat dangan mata telanjang. Pengelompokan ukuran partikel tanah terdiri atas pasiran (sand), debu (silt), dan lempung (clay). Gabungan dari ke-3 ini disebut gelu (loam). Ukuran sparasi tanah yang umum yang dipakai untuk keperluan pertanian (termasuk ilmu tanah) adalah separasi tanah berdasarkan sistem klasifikasi partikel tanah oleh USDA (Departemen Pertanian Amerika Serikat), yaitu:
Sparasi tanah
Kisaran diameter (mm)
Krikil (grevel)
≥ 2.0
Pasir sangat kasar


Sand

1.0 – 2.0
Pasir kasar
0.5 – 1.0
Pasir sedang
0.25 – 0.5
Pasir halus
0.10 – 0.25
Pasir sangat halus
0.05 – 0.10
Debu
Silt
0.002 – 0.05
Lempung
Clay
<0.002
Tekstur berperan dalam mempengaruhi beberapa karakter tanah, seperti:
1.    Tingkat penyerapan air
2.    Penyimpanan/penhan air
3.    Pengudaraan tanah
4.    Kemudahan pengolahan tanah
5.    Kesuburan tanah.
Tanah yang bertekstur kasar atau berpasir tinggi cenderung untuk mudah lepas dan pengelolaannya gampang atau ringan. Oleh sebab itu disebut tanah ringan. Sedangkan tanah yang bertekstur halus, karena dapat menyerap air banyak bersifat plastis, lengket, sehingga sukar/berat diolahnya dan disebut tanah berat atau tanah dengan kandungan liat yang tinggi. Berat volume (bulk density) tanah lebih kecil dari tanah pasir, berarti pada volume yang sama tanah liat lebih ringan dari tanah pasir. Untuk meneentukan kelas tekstur suatu tanah secara teliti sekali harus dilakukan analisa tekstur di laboratorium yang disebut analisa mekanik tanah.
            Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer dan agregat-agregat primer tanah yang secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat. Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsugung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. Jumlah dan panjang akar pada tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah berstruktur berat. Hal ini disebabkan perkembangan akar pada tanah berstruktur ringan/remah lebih cepat per satuan waktu dibandingkan akar tanaman pada tanah kompak, sebagai akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang memang tersedia banyak pada tanah remah. Selain itu akar memiliki kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada tanah yang berpori, dibandiangkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan mengalami kesulitan untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga perakaran tidak berkembang dengan baik. Aktifitas akar tanaman dan organisme tanah merupakan salah satu faktor utama pembentuk agregat tanah. Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan (longsor). Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan (longsor).
Macam macam struktur tanah
1.    Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical.
2.    Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.
3.    Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).
4.    Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.
            Reaksi tanah atau pH tanah di lapangan dibagi dalam tiga keadaan, yaitu reaksi tanah masam, reaksi tanah netral, dan reaksi tanah basa atau alkali. Reaksi ini dinyatakan dalam pH tanah, yaitu dari 0-14, untuk bidang pertanian pHnya berkisar 4-9. Pengetahuan akan pH sangat penting, karena berkenaan dengan pemupukan, pengapuran, dan perbaikan keadaan kimia dan fisik tanah. Adapun pH tanah adalah logaritma negatiif dari konsentrasi ion-ion H bebas dalam larutan tanah atau log 10 (H+), maka konsentrasi hidrogen dinyatakan dalam gram ion perliter.
Beberapa angka pH tanah (reaksi tanah)
Reaksi tanah
pH
Reaksi tanah
pH
Paling masam (ekstrim)
≤ 4.0
Netral
6.5 – 7.5
Sangat masam
4.0 – 4.5
Agak basa
7.5 – 8.5
Asam
4.5 – 5.5
Basa
8.5 – 9.0
Agak masam
5.5 – 6.5
Sangat basa
9.0
Jumlah atau konsentrasi kedua ion hidrogen dan hidrosil ini dipengaruhi oleh jenis dan jumlah kation-kation yang dijerap oleh kompleks liat. Kompleks koloid yang jenuh basa menyebabkan reaksi tanah basa atau alkalis, oleh karena basa-basa yang dijerap ini akan ditukar oleh ion-ion hidrogen bebas tadi.  Begitu pula pada kompleks koloid yang jenuh oleh ion-ion H+ akan slalu terjadi reaksi tanah asam. untuk menetralkannya atau menjadikan basa adalah dengan jalan pengapuran.
            Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya. Kandungan bahan orgnik pada masing – masing horison merupakan bentuk besarnya akumulasi bahan oorganik dalam keadaaan lingkungan yang berbeda.Komponen bahan organik yang penting adalah C dan N.Kandungan bahan organik itu dengan mengalihkan  ditentukan secara tidak langsung yaitkan u dengan mengalikan kadar C dengan suatu faktor yang umumnya sebagai berikut :Kandunagn bahan organik =C *1,724.Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka kandungan bahan organik merupakan salah satu indikator tingkat kesuburan tanah.Dan dalam pengapuran berfungsi dlam mempengaruhi kondisi tanah bereaksi masam  cukup baik untuk pertumbuhan tanaman ,Dan salah satu contoh tanah mineral dan organik yang bereaksi masam  yaitu,Ultisol,Oksisol,Andisol. Manfaat C-organik secara Fisik: sebagai pengikat mineral menjadi granular dan untuk menjaga kandungan air tanah. Secara kimia: sebagai sumber unsur hara tanaman, dan meningkatkan serapan tanah essensial makro (C, N, H, O, P, K, Ca, Mg, S) dan mikro (Cl, Cu, Mo, B, Fe, Mn, Zn).


  


BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
            Dari hasil praktikum kali ini dapat diperoleh kesimpulan, yaitu :
1.    karakteristik tanah bisa dilihat dari sifat kimia, fisika dan biologinya.
2.    Tekstur tanah adalah perbandingan kandungan partikel-partikel tanah primer berupa fraksi liat, debu, dan pasir dalam suatu masa tanah. Pertikel-partikel tanah primer itu memiliki benyuk dan ukuran yang berbeda-beda dan dapat digolongkan ke dalam 3 golongan fraksi, ada yang berdiameter besar sehingga dengan mudah dan dapat dilihat dangan mata telanjang.
3.    Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer dan agregat-agregat primer tanah yang secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat.
4.    Reaksi tanah atau pH tanah di lapangan dibagi dalam tiga keadaan, yaitu reaksi tanah masam, reaksi tanah netral, dan reaksi tanah basa atau alkali.
5.    Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air.

5.2 Saran
            Dalam praktikum kali ini sebaiknya melakukannya lebih teliti dan baik agar acara dalam analisis tanah mendapatkan hasil yang benar dan tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Handayani, S. dan Bambang H. S. 2002. Kajian Struktur Tanah Lapis Olah : I. Agihan ukuran dan dispersitas agregat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1): Hal. 10-17.

Sarief, E. Sarifuddin. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana: Bandung.

Supriyono, H. et al. 2009. Kandungan C-Organik dan N-Total pada Seresah dan Tanah pada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus di Wanagama I, Gunung Kidul, DIY). Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: Hal. 49-57.

Sutedjo, I. M. dan A. G. Kartasapoetra. 1991. Pengantar Ilmu Tanah, Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Rhineka Cipta: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar